Tidak berhenti di situ, Renita juga menangani proyek instalasi database untuk kepolisian lokal. Timnya kemudian membuat hot spot map, semacam peta digital yang menandai titik-titik rawan kejahatan atau kriminogen. Peta ini dipakai personel PBB lain untuk menyusun rute dan jadwal patroli.
Dipuji Atasan, Diakui Lintas Negara
Atasan langsung Renita di MINUSCA, Ipda Sugiandono yang saat itu menjabat Kepala Unit Kriminal Analisis Database, menyebut migrasi database itu sebagai terobosan nyata.
"Database analis kriminal adalah salah satu terobosan, menurut saya, karena pada waktu itu database tersebut di bawah sistem atau platformnya UN. Sehingga memberikan kontribusi yang besar baik terhadap misi maupun level strategis di kepolisian atau sektor keamanan lokal di Republik Afrika Tengah," kata Ipda Sugi.
Menariknya, unit kerja Renita bukan cuma diisi personel Indonesia. Ada juga polisi dari Senegal, Mali, hingga Jordania, menurut keterangan Ipda Sugi. Artinya, sistem yang dibangun Renita dipakai lintas negara dan lintas budaya kerja, bukan sekadar proyek lokal.
Ipda Sugi juga menjelaskan manfaat praktis sistem ini di lapangan.
"Ketika saya pengen mengetahui situasi suatu wilayah A, nah itu akan muncul di wilayah A ini tren kejahatannya seperti ini... jam-jam rawannya itu muncul otomatis," jelasnya. Dengan data itu, tim operasi bisa langsung menerjunkan patroli di jam dan lokasi yang tepat.