Dari seluruh dokumen yang diumumkan, perhatian paling tertuju pada urusan pertahanan. Kementerian Pertahanan RI akhirnya meneken kontrak pengadaan rudal jelajah supersonik BrahMos dengan BrahMos Aerospace, sistem senjata hasil patungan Rusia dan India yang sebenarnya sudah lama dilirik Indonesia. Dengan kontrak ini, Indonesia menyusul Filipina dan Vietnam sebagai negara ketiga di kawasan yang mengakuisisi BrahMos.
Kesepakatan senjata tidak berhenti di situ. Bharat Dynamics Limited, perusahaan pertahanan pelat merah milik India, menandatangani kerja sama pengadaan rudal udara-ke-udara dengan Republikorp, induk usaha pertahanan swasta Indonesia.
Dalam pernyataan bersamanya, Prabowo menegaskan keinginan memperdalam kerja sama keamanan lewat forum India-Indonesia Security Dialogue ketiga, mulai dari pengembangan teknologi baru sampai penanggulangan kejahatan lintas negara.
Kedua negara juga menyepakati perluasan kolaborasi di bidang keamanan maritim dan ekonomi biru, termasuk pengembangan pelabuhan. Langkah ini wajar mengingat Indonesia dan India merupakan negara maritim besar dengan kepentingan strategis yang sama di Samudra Hindia.
Dari meja dagang ke budaya
Urusan ekonomi berjalan seiring. Kedua pemimpin sepakat mempercepat pembahasan Indonesia-India Preferential Trade Agreement (II-PTA) serta meninjau ulang ASEAN-India Trade in Goods Agreement (AITIGA) yang telah berlaku lebih dari satu dekade.