Beranda Kesehatan Memahami Varian COVID 'Cicada': Sejarah Muncul, Cara Penularan, dan Langkah Antisipasi

Memahami Varian COVID 'Cicada': Sejarah Muncul, Cara Penularan, dan Langkah Antisipasi

Varian BA.3.2 pertama kali diidentifikasi dari sampel koleksi pernapasan di Afrika Selatan pada 22 November 2024.

0
Ilustrasi

CARAPANDANG - Varian baru Covid-19, BA.3.2 yang dijuluki 'Cicada', tengah menjadi perhatian global karena kemampuannya yang dinilai 'licin' dalam menghindari sistem kekebalan tubuh. Meski belum terdeteksi di Indonesia hingga akhir Maret 2026, memahami sejarah kemunculan, cara penularan, dan langkah antisipasinya menjadi penting untuk kewaspadaan bersama.

Varian BA.3.2 pertama kali diidentifikasi dari sampel koleksi pernapasan di Afrika Selatan pada 22 November 2024 . Varian ini merupakan turunan dari garis keturunan Omicron BA.3 yang telah lama tidak beredar luas sejak awal tahun 2022, sehingga kemunculannya dianggap mengejutkan para ilmuwan.

Nama julukan "Cicada" tidak diberikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), melainkan oleh Prof. T. Ryan Gregory, seorang ahli biologi dari University of Guelph, Kanada.

Nama ini diilhami oleh kebiasaan unik serangga tonggeret (cicada) yang terlihat menghilang selama bertahun-tahun di dalam tanah sebelum muncul ke permukaan secara serentak.

Pola ini dinilai sangat mirip dengan varian BA.3.2 yang semacam 'menghilang' atau beredar secara tersembunyi di level rendah (cryptic circulation) sebelum akhirnya meningkat penyebarannya pada akhir tahun 2025.

Keunikan varian ini terletak pada jumlah mutasinya yang sangat tinggi. Dibandingkan dengan varian JN.1 dan LP.8.1 (yang menjadi dasar pembuatan vaksin 2025-2026), BA.3.2 memiliki sekitar 70 hingga 75 mutasi pada protein lonjakan (spike protein).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here