"Membaca bukan sekadar mengeja huruf, tetapi membaca itu adalah kemampuan untuk menalar, kemampuan memahami apa yang dibaca," tegasnya.
Untuk meningkatkan literasi dan numerasi, Mu’ti memaparkan tiga hal utama yang perlu dilakukan.
Pertama, membangun kompetensi siswa melalui proses pembelajaran yang sesuai usia dan menggunakan strategi yang mendorong kemampuan berpikir tingkat dasar.
Kedua, membangun kebiasaan membaca atau reading habit di kalangan siswa.
Ketiga, membentuk budaya membaca atau reading culture dengan memastikan ketersediaan bahan bacaan di berbagai lingkungan.
"Tentu bahan bacaan tidak harus selalu berupa buku, bisa berupa koran, bisa berupa majalah atau apa pun bahan bacaan yang mendorong menstimulasi anak kita ini untuk senantiasa lekat dekat dan membiasakan diri membaca," pungkas Mu’ti.