Pertama, Segera laksanakan Puasa Syawal. Ini adalah jembatan spiritual yang paling nyata. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian diikuti dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim) Puasa ini bukan sekadar mengejar pahala setahun, tapi merupakan pernyataan cinta kepada Allah bahwa kita masih merindukan suasana ibadah meski Ramadhan telah pergi.
Kedua, Menjaga amalan yang sedikit namun rutin. Jangan paksakan volume ibadah yang sama persis dengan Ramadhan jika memang tidak mampu, namun jangan tinggalkan sama sekali. Rasulullah SAW bersabda: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinu (rutin) meskipun sedikit.” (HR. Bukhari, Muslim). Jika kemarin kita khatam Al-Qur’an berkali-kali, minimal di bulan Syawal ini jangan ada hari tanpa membaca Al-Qur’an, walau hanya satu halaman atau satu ruku’.
Ketiga, Mewaspadai tipu daya setan yang telah lepas. Iblis dan bala tentaranya telah kembali dari belenggu. Target utama mereka adalah menghancurkan “benteng taqwa” yang kita bangun di bulan Ramadhan. Mereka akan membisikkan rasa malas dan perasaan “sudah cukup shaleh”. Ingatlah, perjuangan melawan hawa nafsu adalah jihad yang tidak pernah selesai hingga nafas terakhir