Ia menjelaskan, penelitian tersebut melibatkan periset lintas disiplin dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA), Pusat Riset Kecerdasan Artifisial dan Keamanan Siber (PRKAKS), Pusat Riset Komputasi (PRK) BRIN, Departemen Matematika FMIPA Universitas Padjadjaran, serta Departemen Fisika FSM UNDIP.
Menurut Eddy, AWS yang dipasang berfungsi sebagai sistem pengamatan meteorologi otomatis yang mampu merekam berbagai parameter cuaca dan iklim secara berkelanjutan, seperti curah hujan, suhu udara, kelembapan, tekanan udara, radiasi matahari, kecepatan angin, dan arah angin.
Keberadaan perangkat tersebut diharapkan memperkuat jaringan observasi iklim nasional sekaligus menyediakan data cuaca lokal berkualitas tinggi yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan penelitian, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat.
"Data hasil pengamatan AWS akan menjadi sumber informasi penting dalam pengembangan model prediksi cuaca dan iklim, validasi data satelit maupun radar cuaca, serta analisis kejadian cuaca ekstrem di wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya," jelasnya.
Selain mendukung penelitian BRIN, data observasi tersebut juga dapat dimanfaatkan oleh dosen, mahasiswa, dan peneliti FSM UNDIP untuk berbagai kegiatan akademik, mulai dari penelitian tugas akhir, publikasi ilmiah, hingga pengembangan teknologi berbasis data iklim.