Dalam sebuah pernyataan, IRGC mengatakan pihaknya menghormati keputusan Majelis Ahli dan berjanji untuk sepenuhnya patuh serta siap menjalankan instruksi pemimpin baru dalam membela Republik Islam.
Dukungan serupa juga datang dari Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran dan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, yang menyerukan persatuan nasional di sekitar kepemimpinan baru.
Penunjukan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan dan konflik berkepanjangan dengan Amerika Serikat dan Israel pascaserangan 28 Februari.
Menjelang pengumuman, Israel telah mengeluarkan ancaman akan menargetkan siapa pun yang terpilih sebagai pemimpin baru.
Seorang juru bicara militer Israel dalam pernyataannya menegaskan, tangan Israel akan terus memburu pengganti (Khamenei) dan siapa pun yang mencoba menunjuknya.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya juga menyatakan penolakannya terhadap kemungkinan terpilihnya Mojtaba Khamenei.
Dalam wawancara dengan ABC News pada hari yang sama, Trump menegaskan bahwa Washington harus memiliki suara dalam pemilihan tersebut.
"Jika dia tidak mendapat persetujuan dari kami, dia tidak akan bertahan lama," kata Trump.
Gedung Putih hingga saat ini belum mengeluarkan tanggapan resmi atas penetapan pemimpin baru Iran tersebut.