Tidak sia-sia, sedari dalam perut ibu ayah sering ngajiin, berharap bahwa persalinanku lancar, dan lahir bayi yang sehat dan membahagiakan. Siangnya aku sudah mulai mengumpulkan tenaga untuk menggerakkan kaki, melambaikan tangan dan sedikit bersuara seakan ingin berkata “wahai”.
**
Dunia telah menyaksikan cerita dramatisnya anak manusia yang kebetulan karena lahir di Tahun politik pada waktu lalu. Ingin rasanya mematenkan sejarah dalam selembar monolog ini, bukan ingin dibaca sebagai cerita fiksi Neoisme.
Tapi berharap siapa tau saja menjadi pencerahan dunia kedepan, untuk semua yang sedang sibuk bergulat dengan semesta masing-masing. Terutama meletuskan gelembung inspirasi bagi generasi emas yang tak takut hidup kendati lahir pada musim apapun.
Kepada semua yang menjadi lakon dan dalang pesta politik pemilihan kepala daerah (Pilkada) yang sedang menuju fase “kurang waras”. Demokrasi sekedar menyampahi pemandangan jalanan pedesaan bak kota hantu, horor karena dipenuhi spanduk dan baliho-baliho besar.
Politik irama suara sepatu kuda yang hanya riuh gemuruh dengan sesumbar, dan lelucon isinya pepesan kosong. Kemudian pak Kusir benhur pun terpingkal-pingkal menertawai dirinya. Dapatkah membuahkan nilai-nilai maslahat kesejahteraan, kemakmuran, kemajuan perbaikan keadaan dan peradaban kemanusiaan?