Tyroneo tumbuh besar, kita belajar membesarkan anak, memasak sendiri makanan yang kita makan. Dengerin musik, nonton film. Dan mungkin kita punya sedikit sisipan uang, kita meminta badut-badut untuk mengisi kekosongan, membebaskan mereka dengan hiburan yang menggerutu kemewahan.
Biarkan badut-badut menciptakan kebisingan untuk “mereka” para borjuisa yang mengkonsumsi dengan sangat tamak dan serakah, mereka yang merampas makanan dari mulut anak-anak orang miskin (seperti kita).
Di saat kaum bangsawan terlelap dan mengalami kelumpuhan. Kalau kita memiliki waktu senggang, sesekali kita akan pergi berlibur bersama dengan menaiki becak atau bemo tua yang berkecepatan ringan.
Kita akan menuju Desa yang mengagumkan satu-satunya tempat yang layak untuk hidup, Desa yang sekarang dianggap sebagai neraka. Dimana semua orang ingin meloloskan dirinya untuk tinggal di kota hanya demi satu alasan keistimewaan.
Yang tak kalah penting bukan “mengolah” tapi mengajarkan dia mencangkul tanah, membakar kulitnya dengan bercocok tanam di sawah, kebun dan gunung-gunung. Mengajarinya mempelajari sejarah dan merakit sastra sebagai syarat tambahan agar dia tak terbelenggu dengan pekerjaan kasar yang berlawanan dengan pikirannya.
Kelak lahir neo-neo baru, tak ada yang memungkiri mengagumi kisahnya, bahkan boleh saja ikut-ikutan menyamai bayinya dengan sebagian nama neo di ‘comot’. Berharap Noeisme dapat memperbaiki peradaban dunia kedepan.