Selain itu, Wagub mengingatkan agar masyarakat tetap mematuhi batas pengamanan yang telah ditetapkan.
Untuk sementara, jarak aman dari bibir lubang minimal 50 meter, mengingat kondisi tanah masih berpotensi mengalami amblasan lanjutan. Pembatasan ini dilakukan demi mencegah risiko kecelakaan.
Dari hasil perhitungan cepat, Vasko menjelaskan bahwa secara kimia, kandungan total zat terlarut (TDS) dan besi (Fe) masih tergolong aman. Namun, tingginya kandungan bakteri e-Coli menjadi faktor utama yang membuat air tersebut tidak layak dikonsumsi tanpa proses pengolahan terlebih dahulu. Jika terpaksa digunakan, air harus dimasak terlebih dahulu.
Kajian lebih mendalam juga masih terus dilakukan oleh Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sumbar bersama Badan Geologi.
Hasil kajian komprehensif tersebut nantinya akan menjadi dasar rekomendasi teknis yang diserahkan kepada Bupati Limapuluh Kota untuk menentukan kebijakan lanjutan terkait pemanfaatan dan pengamanan kawasan.
Kepala Dinas ESDM Sumbar, Helmi, menyampaikan bahwa Badan Geologi telah melakukan studi lapangan selama beberapa hari terakhir.
Namun, untuk memastikan penyebab amblasan secara menyeluruh, masih dibutuhkan peralatan tambahan serta dukungan logistik guna menunjang kajian ilmiah yang lebih detail.
Sebelumnya, sinkhole tersebut diketahui muncul secara tiba-tiba pada Minggu (4/1/2025) siang di lahan persawahan milik warga bernama Adrolmios (61).