Para mitra terus menyerukan penambahan titik perlintasan dan pencabutan pembatasan terhadap barang-barang yang sulit memperoleh persetujuan, lanjut OCHA.
Namun demikian, pasokan bahan bakar masih terbatas. Tidak ada pembebasan pajak pertambahan nilai (PPN) di Israel, sehingga mitra-mitra kemanusiaan sebagian besar bergantung pada satu pemasok dari Mesir, yang tidak selalu mampu memenuhi kebutuhan yang diperlukan. Selain itu, otoritas Israel hanya mengizinkan impor bahan bakar, baik dari Mesir maupun Israel, selama jam operasional terbatas di perlintasan Kerem Shalom/Karem Abu Salem, kata OCHA.
"Akibatnya, pada pekan kedua Juni, mitra-mitra kemanusiaan di wilayah Gaza terpaksa memprioritaskan alokasi bahan bakar untuk layanan penyelamatan nyawa dan menangguhkannya untuk layanan yang kurang krusial," menurut OCHA. "Ketika bahan bakar tersedia, generator sering kali kekurangan oli pelumas yang diperlukan untuk beroperasi, dan mendapatkan persetujuan dari Israel untuk itu juga sangat sulit."
Di Tepi Barat, kantor tersebut menyatakan bahwa tingkat kekerasan tetap berada pada level yang mengkhawatirkan.
OCHA menyebutkan bahwa pasukan Israel pada Minggu (21/6) menembak dan menewaskan seorang anak laki-laki dan seorang pria, yang diduga merupakan bagian dari kelompok yang membakar ban dan melemparkan bom molotov ke arah permukiman di Hebron.