"AI lebih seperti sebuah paradoks. Terkadang positif, jika Anda dapat memanfaatkannya secara optimal. Tetapi terkadang juga negatif. Kita dapat lebih berfokus pada sisi positifnya," kata Badri. "Guru dan siswa harus memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan. Memahami AI, mengoptimalkan pemanfaatannya bagi masyarakat merupakan bagian dari proses perubahan. Pelatihan itu penting, bukan hanya bagi siswa, tetapi juga bagi para profesor. AI merupakan bidang pembelajaran yang masih sangat baru."
Foto yang diabadikan pada 6 Juli 2026 ini menunjukkan seorang teknisi sedang mengumpulkan data dari sebuah perangkat kecerdasan buatan berwujud (embodied AI) di Guiyang, ibu kota Provinsi Guizhou, China barat daya. (Xinhua)
"Sebelumnya kita mengandalkan buku teks, tetapi sekarang kita dapat belajar langsung dengan bantuan AI. Kurikulum dan sistem ujian di pendidikan tinggi perlu diubah. Kita perlu belajar dari China mengenai cara China mengintegrasikan AI ke dalam kurikulum," tambahnya.
"Di masa lalu, pembelajaran berpusat pada buku teks, tetapi AI kini telah mengubah model pembelajaran. Kurikulum dan sistem evaluasi di perguruan tinggi perlu direformasi agar selaras dengan perkembangan tersebut. Indonesia akan belajar dari pengalaman China yang telah matang dalam mengintegrasikan AI ke dalam kurikulum akademik secara menyeluruh," ungkap Badri.