Menurutnya, hal itu yang harus diluruskan di tengah arus informasi yang serba cepat karena media sosial dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
"Di Indonesia, kalau konten yang nadanya negatif ataupun emosional dan kemudian menyerang kelompok politik tertentu itu cenderung memperoleh engagement yang tinggi. Jangan lah sampai hal-hal seperti itu malah berlarut-larut. Demokrasi ini kan membutuhkan kebebasan berbicara, tetapi juga butuh kedewasaan dan tanggung jawab," ucapnya.
Ayip menilai fenomena seperti itu memang ramai di media sosial, tetapi tidak merepresentasikan keseluruhan pandangan masyarakat. Sebab, dari sisi legitimasi politik maupun penilaian mayoritas masyarakat justru sebaliknya.
Pertama, Prabowo terpilih dengan legitimasi yang sangat kuat, yaitu menang dengan dukungan 58 persen masyarakat Indonesia.
"Secara elektoral dan konstitusional, Pak Prabowo menang 58 persen dengan sekali putaran melawan dua orang kandidat yang mestinya bisa dua putaran. Itu legitimasinya kuat sekali," katanya.
Kemudian, menurut Ayip, tingkat kepuasan Presiden Prabowo juga tinggi. Menurut survei Poltracking terbaru, 74,2 persen publik percaya dengan pemerintahan Presiden Prabowo dan 72,2 persen puas dengan kinerja pemerintah.
"Artinya, berbagai hasil survei ini dapat dijadikan indikator bahwa dukungan dan kepercayaan publik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo ini masih berada di tingkat mayoritas," ucapnya.