"Faktanya, kita perlu melihat komitmen tegas bahwa mereka tidak akan berupaya memiliki senjata nuklir dan mereka tidak akan berupaya mendapatkan alat-alat yang memungkinkan mereka memperoleh senjata nuklir dengan cepat," tegas Vance dikutip dari CNN Indonesia.
Kedua, masalah Selat Hormuz menjadi isu kompleks yang mempersulit negosiasi. Iran memberlakukan pengetatan lalu lintas kapal tanker di jalur energi dunia tersebut sebagai dampak dari serangan AS-Israel terhadap Teheran.
Media pemerintah Iran, Tasnim, melaporkan bahwa AS berusaha mencapai tujuannya yang gagal diraih dalam perang melalui meja negosiasi, termasuk terkait kendali atas Selat Hormuz dan pemindahan material nuklir dari Iran. Namun, delegasi Iran disebut menggagalkan upaya tersebut.
"Tim Iran mencoba mendorong pihak Amerika untuk mencapai kerangka kerja bersama dengan menawarkan berbagai inisiatif, tetapi keserakahan Amerika akan tuntutan yang berlebihan telah menjauhkan mereka dari rasionalitas dan realisme," tulis Tasnim.
Meski perundingan gagal, Pakistan yang bertindak sebagai mediator meminta AS dan Iran tetap menjaga komitmen gencatan senjata yang disepakati pada 8 April 2026.
Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, mengatakan negaranya telah berupaya maksimal dalam menengahi negosiasi intensif yang berlangsung sekitar 24 jam.