Selain itu, perubahan sosial, seperti perpanjangan masa pendidikan, kesulitan ekonomi, dan budaya populer yang memuja gaya hidup bebas, juga dinilai berkontribusi pada munculnya fenomena ini.
Dalam praktiknya, individu dengan kecenderungan Peter Pan Syndrome dapat mengalami hambatan dalam relasi romantis maupun karier.
Mereka mungkin tampak karismatik, menyenangkan, dan kreatif, tetapi kesulitan mempertahankan stabilitas hidup jangka panjang.
Kondisi ini juga bisa berdampak pada pasangan atau keluarga yang harus memikul tanggung jawab lebih besar.
Para ahli menegaskan bahwa kedewasaan bukan semata soal usia, melainkan kemampuan regulasi emosi, kemandirian, serta kesiapan mengambil tanggung jawab.
Pendekatan seperti terapi psikologis, konseling, dan penguatan keterampilan hidup (life skills) dinilai dapat membantu individu mengembangkan kedewasaan emosional.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa tumbuh dewasa merupakan proses yang kompleks, dipengaruhi faktor biologis, psikologis, dan sosial.
Meski bukan gangguan medis resmi, Peter Pan Syndrome tetap menjadi istilah yang relevan untuk menggambarkan dinamika kedewasaan di era modern.