UNIFIL menyatakan bahwa insiden ini merupakan kejadian fatal kedua dalam 24 jam terakhir dan menegaskan bahwa serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian dapat dianggap sebagai kejahatan perang.
Hingga saat ini, proses investigasi masih terus dilakukan untuk memastikan pihak yang bertanggung jawab atas ledakan tersebut.
Indonesia merupakan kontributor pasukan terbesar dalam misi UNIFIL dengan jumlah sekitar 1.000 personel yang bertugas di daratan dan perairan Lebanon. Tragedi dalam dua hari terakhir ini mencatatkan periode paling mematikan bagi Kontingen Garuda sejak pertama kali bergabung dalam misi UNIFIL pada tahun 2006.