Gestur itu bukan sekadar spontanitas, tapi sebuah pesan bahwa kepemimpinan tidak selalu harus dibungkus formalitas. Bahwa dalam krisis, empati dan keberanian hadir lebih penting daripada simbol kekuasaan. Vasko tidak berdiri di belakang meja tapi berbicara langsung dengan warga, bercengkrama, menghibur, berusaha menjaga semangat para pengungsi. Di tengah krisis besar di awal masa jabatannya, ia justru terlihat menemukan jati dirinya. Bencana itu seolah tidak membuatnya ragu, tetapi justru mematangkan perannya sebagai pemimpin. Jejaring nasional yang dimilikinya juga tidak berhenti pada simbol. Jaringannya di pemerintah pusat, relawan, dan figur publik nasional berhasil dimobilisasi untuk membantu Sumatera Barat. Bantuan datang lebih cepat, dukungan meluas. Ini adalah bentuk kepemimpinan berbasis jaringan luas.
Bagi sebagian masyarakat, Vasko terlihat seperti Mahyeldi di masa muda; energik, dekat dengan rakyat, dan tidak berjarak dengan situasi lapangan. Sementara Mahyeldi membawa pengalaman dan ketenangan struktural, Vasko membawa energi dan keberanian lapangan. Dua karakter yang mirip saling melengkapi di tengah krisis bencana.
Pelaksanaan Pembangunan Program Strategis