Beranda Sejarah Sebelum Ada Pengawet, Masyarakat Eropa Timur Masukkan Katak ke Dalam Susu Agar Tidak Basi

Sebelum Ada Pengawet, Masyarakat Eropa Timur Masukkan Katak ke Dalam Susu Agar Tidak Basi

Penelitian modern kemudian menemukan bahwa kulit katak mengandung senyawa alami yang bersifat antimikroba, dikenal sebagai antimicrobial peptides (AMPs).

0
Ilustrasi

CARAPANDANG - Sebuah tradisi unik dari Eropa Timur pada abad ke-18 hingga ke-19 kembali menjadi perhatian publik setelah sejumlah penelitian modern mengungkap dasar ilmiah di balik praktik tersebut. Masyarakat di Rusia dan wilayah sekitarnya diketahui pernah memasukkan katak hidup ke dalam wadah susu untuk memperlambat proses pembusukan.

Praktik ini dilakukan sebelum ditemukannya teknologi pendingin seperti lemari es. Pada masa itu, susu merupakan bahan pangan yang mudah basi, terutama di musim panas. Untuk mengatasi hal tersebut, sebagian masyarakat memanfaatkan katak yang dimasukkan langsung ke dalam susu sebagai cara alami untuk menjaga kesegarannya.

Catatan etnografi dan laporan ilmiah lama menyebutkan bahwa kebiasaan ini cukup umum dilakukan di pedesaan. Katak yang digunakan biasanya berasal dari lingkungan sekitar, seperti rawa atau kolam.

Penelitian modern kemudian menemukan bahwa kulit katak mengandung senyawa alami yang bersifat antimikroba, dikenal sebagai antimicrobial peptides (AMPs). Senyawa ini berfungsi melindungi katak dari infeksi bakteri di habitatnya yang lembap dan kotor.

Sejumlah ilmuwan menyebutkan bahwa zat tersebut mampu menghambat pertumbuhan bakteri, termasuk mikroorganisme yang menyebabkan susu cepat basi. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa praktik tradisional tersebut bukan sekadar kepercayaan turun-temurun, melainkan memiliki dasar ilmiah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here