CARAPANDANG - Serangan udara Israel terus mengguncang Lebanon selatan hingga Sabtu (20/6), meskipun Amerika Serikat mengumumkan kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah telah tercapai sehari sebelumnya.
Berdasarkan laporan media resmi Lebanon, setidaknya lima orang tewas dalam serangan dini hari yang menargetkan sejumlah kota di wilayah Nabatieh, seperti Arab Salim, Deir Zahrani, dan Doueir.
Sebelumnya pada Jumat (19/6), Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan 47 orang tewas dan 97 luka-luka akibat eskalasi intensif yang terjadi di Lebanon selatan dan timur.
Seorang pejabat AS mengklaim gencatan senjata telah diberlakukan pada Jumat sore.
Namun, tim penyelamat di Nabatieh melaporkan sedikitnya 12 serangan udara masih terjadi setelah kesepakatan tersebut mulai berlaku.
Militer Israel membenarkan gencatan senjata, namun menegaskan pasukannya akan terus bergerak untuk melenyapkan ancaman yang datang seketika.
Hizbullah sendiri belum mengonfirmasi kesepakatan tersebut, dan malah menuduh Israel tidak pernah mematuhi gencatan senjata sejak November 2024.
Kelompok yang didukung Iran itu menegaskan akan terus merespons serangan Israel.
Presiden Lebanon Joseph Aoun mengecam serangan Israel sebagai "eskalasi berbahaya" yang menimpa warga sipil dan menghambat upaya perdamaian.
Iran juga mengutuk serangan tersebut dan menyatakan bahwa AS bertanggung jawab penuh atas pelanggaran gencatan senjata.