CARAPANDANG - Majelis Ahli Iran, badan ulama tertinggi di negara tersebut, secara resmi menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran yang baru, Senin (9/3) dini hari waktu setempat. Penunjukan ini terjadi hanya sembilan hari setelah ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan gabungan militer Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu.
Pria berusia 56 tahun itu adalah putra kedua dari mendiang Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.
Ia ditunjuk melalui proses voting yang digambarkan oleh Majelis Ahli sebagai keputusan yang menentukan untuk mengisi kekosongan kepemimpinan di tengah situasi perang yang masih berlangsung dengan Israel dan AS.
Berbeda dengan ayahnya, Mojtaba Khamenei dikenal sebagai figur yang sangat tertutup. Ia tidak pernah menduduki jabatan resmi pemerintahan, tidak pernah memberikan pidato publik, dan jarang tampil di depan kamera. Bahkan, banyak warga Iran yang belum pernah mendengar suaranya.
Meskipun rendah hati di depan publik, pengaruhnya di belakang layar telah lama menjadi perbincangan kalangan analis intelijen.
Kabel diplomatik Amerika Serikat yang diungkapkan oleh Wikileaks pada akhir 2000-an menggambarkannya sebagai "the power behind the robes" atau "kekuatan di balik jubah".
Ia disebut sebagai "penjaga gerbang" utama bagi ayahnya yang mengontrol akses dan informasi menuju Pemimpin Tertinggi.