Menurut peneliti, penderita serangan jantung memiliki risiko depresi dan kecemasan hingga tiga kali lebih tinggi dibanding populasi umum.
Bahkan pasien yang mengalami depresi atau kecemasan setelah serangan jantung disebut memiliki kemungkinan hingga 2,7 kali lebih besar mengalami serangan jantung kedua atau kematian.
Peneliti menilai temuan ini memperkuat konsep “heart-brain axis” atau hubungan dua arah antara jantung dan otak.
Peradangan dan kerusakan sel otak akibat methylglyoxal juga dinilai berpotensi meningkatkan risiko penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer's disease dan demensia.
Tim peneliti kini tengah mengembangkan terapi berbasis peptida yang dirancang untuk “menangkap” methylglyoxal sebelum merusak sel otak.
Terapi tersebut bekerja seperti spons molekuler yang mengikat zat beracun agar tidak masuk ke sistem saraf pusat.
Suuronen mengatakan terapi itu akan segera diuji untuk melihat apakah mampu melindungi otak pasien setelah serangan jantung.
Jika berhasil, terapi tersebut dinilai berpotensi membantu menurunkan risiko gangguan mental sekaligus mengurangi kemungkinan serangan jantung berulang.