Kekhawatiran akan terjadinya stagflasi di Amerika Serikat menjadi sorotan para pelaku pasar dan ekonom. Kondisi ini dipicu oleh konflik geopolitik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak mentah global serta data inflasi yang masih tinggi. Namun, Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell menegaskan bahwa risiko tersebut masih jauh dari kenyataan.
Dalam konferensi pers usai pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada Rabu waktu setempat, Powell menyatakan bahwa meskipun ada tekanan dari kenaikan harga energi, struktur ekonomi AS saat ini sangat berbeda dengan era 1970-an yang identik dengan stagflasi.
"Ketika kita menggunakan istilah stagflasi, saya harus menunjukkan bahwa itu adalah istilah tahun 1970-an," ujar Powell.
"Saat itu, pengangguran berada di angka dua digit, dan inflasi sangat tinggi. Kami tidak melihat hal itu terjadi sekarang," tambahnya.
Powell mengakui bahwa konflik yang melibatkan serangan AS-Israel ke Iran sejak 28 Februari lalu telah mengganggu pasokan energi global.
Terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz membuat harga minyak Brent melonjak di atas 100 dolar AS per barel, memicu kekhawatiran akan kenaikan inflasi lanjutan.
Data terbaru menunjukkan inflasi grosir (Producer Price Index/PPI) pada Februari naik 0,7 persen, tertinggi dalam tujuh bulan terakhir.