CARAPANDANG - Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mulai mengundang sejumlah pemimpin dunia dan tokoh terkemuka untuk menjadi bagian dari apa yang disebutnya "Dewan Perdamaian" (Board of Peace).
Langkah ini mengindikasikan visi yang lebih luas dari badan yang awalnya ditujukan untuk Gaza, menjadi sebuah entitas jangka panjang yang merespons konflik global.
Awalnya, dewan ini diumumkan sebagai bagian dari fase kedua perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Hamas, dengan tugas mengawasi pembangunan kapasitas pemerintahan, hubungan regional, rekonstruksi, penarikan investasi, pendanaan besar-besaran, dan mobilisasi modal di Gaza.
Namun, surat undangan Trump yang dibagikan oleh Presiden Argentina Javier Milei dan Presiden Paraguay Santiago Peña di media sosial pada Sabtu (17/1/2026) menunjukkan ambisi yang lebih luas.
Sebuah piagam yang menyertai surat tersebut, seperti dilaporkan sejumlah media, menegaskan tujuan yang lebih tinggi.
Dalam suratnya kepada Milei, Trump menyatakan dewan ini akan berupaya memperkuat perdamaian di Timur Tengah dan sekaligus memulai pendekatan baru yang berani untuk menyelesaikan Konflik Global.
Piagam itu, dikutip Financial Times, menyebut Dewan Perdamaian sebagai organisasi internasional yang berupaya mempromosikan stabilitas, mengembalikan pemerintahan yang dapat diandalkan dan sah, serta mengamankan perdamaian abadi di area yang terdampak atau terancam konflik.