Juru bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF), Brigadir Jenderal Effie Defrin, mengungkapkan bahwa pihaknya masih memiliki ribuan target yang belum diserang dan terus mengidentifikasi target baru setiap harinya.
Sejak konflik meletus pada 28 Februari, Pentagon mencatat lebih dari 15.000 target di Iran telah dihantam oleh serangan gabungan AS-Israel.
Sementara itu, situasi kemanusiaan dan keamanan regional semakin memburuk. Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab (UEA) melaporkan bahwa enam warga negara asing tewas dan 142 lainnya terluka akibat serangan rudal dan drone di wilayah mereka.
Di Irak, lima orang terluka dalam serangan roket di Bandara Internasional Baghdad yang juga menaungi fasilitas diplomatik AS.
Di Lebanon, setidaknya 10 orang tewas dalam serangan Israel di selatan negara itu, dan Jalur Gaza kembali mencatatkan korban jiwa akibat serangan pesawat nirawak Israel.
Di tengah eskalasi ini, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan negara-negara tetangga untuk tidak terlibat dalam konflik dan mengusir "penjajah asing" dari wilayah mereka. Ia juga menegaskan bahwa negaranya tidak tertarik untuk bernegosiasi dengan AS saat ini.
Dampak ekonomi dari penutupan Selat Hormuz pun mulai terasa global. Harga minyak mentah melonjak 40 persen dan nilai tukar won Korea Selatan jatuh di bawah 1.500 won per dolar AS untuk pertama kalinya dalam 17 tahun, dipicu oleh kekhawatiran pasokan energi.