Pada 2025, kandungan panas laut tertinggi dalam sejarah di area 700 meter atas tercatat di perairan selatan Australia, bagian selatan Laut Tasman, sebagian area Pasifik Utara tropis antara Filipina dan Hawaii, serta secara lokal di bagian selatan Pulau Sumatra di Indonesia.
Permukaan laut di Pasifik Barat Daya naik dengan rata-rata laju 3,7 ± 0,03 milimeter per tahun antara 1999 hingga 2025, menurut laporan tersebut.
Sementara itu, air laut terus mengalami pengasaman karena menyerap semakin banyak karbon dioksida. Hampir seluruh Pasifik Barat Daya mencatat nilai pH laut permukaan terendah sepanjang sejarah pada 2025.
Sejumlah negara di seluruh kawasan itu dilanda peristiwa cuaca dan iklim ekstrem yang menimbulkan korban jiwa dan kerugian ekonomi yang signifikan, terutama akibat siklon tropis. Badai paling mematikan adalah Siklon Senyar, sistem pertama yang diketahui mencapai kekuatan siklon tropis di Selat Malaka, yang berdampak terhadap lebih dari 10 juta orang di Indonesia dan Malaysia serta menewaskan lebih dari 1.200 orang.
"Di seluruh Asia dan Pasifik, panas meningkatkan risiko multibahaya, bersinggungan dengan sistem pangan, kesehatan masyarakat, infrastruktur, dan lautan, serta memberikan tekanan baru pada kesehatan dan mata pencaharian," ujar Armida Salsiah Alisjahbana, sekretaris eksekutif Komisi Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Asia dan Pasifik.