Penghentian konflik tidak hanya berdampak pada stabilitas kawasan, tetapi juga pada kondisi ekonomi global, khususnya terkait potensi krisis energi dan harga minyak dunia.
Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional Amerika Serikat, Joseph Kent, mengundurkan diri pada Selasa dengan menyatakan penolakannya terhadap perang AS yang sedang berlangsung di Iran.
India, yang memegang keketuaan BRICS tahun 2026, mengakui adanya tantangan dalam merumuskan sikap bersama terkait perang yang telah berlangung sejak 28 Februari lalu tersebut.
Data tersebut mencakup 7.943 rumah tinggal, 1.617 pusat komersial dan layanan, 32 fasilitas medis dan farmasi, 65 sekolah dan lembaga pendidikan, 13 gedung Bulan Sabit Merah Iran, serta sejumlah fasilitas pasokan energi.
Dalam konferensi pers di Doral, Florida, Senin (9/3) waktu setempat, Trump gagal memberikan kerangka waktu yang jelas maupun tujuan akhir dari intervensi militer AS di Iran.
Banjir disinformasi dan hoax memenuhi lini media sosial, mulai dari ancaman terhadap Indonesia, video ledakan palsu hasil rekayasa kecerdasan buatan (AI), hingga kabar tentang pasukan China dan Rusia yang disebut "turun gunung" membantu Iran secara militer.
Kenaikan harga ini memicu kekhawatiran baru akan terjadinya inflasi global yang berkepanjangan dan ancaman stagflasi, terutama setelah data ketenagakerjaan AS dirilis lebih lemah dari perkiraan.
Rusia melalui mantan Presiden Dmitry Medvedev mengecam serangan AS dan Israel, menyebutnya sebagai agresi dan mengatakan bahwa negosiasi selama ini hanya kedok belaka.
Peneliti dan Analis Kebijakan Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Hasran mengatakan, perang Iran dengan Israel berpotensi menggerus kinerja dan surplus ekspor Indonesia.
Soleh menegaskan bahwa perang ketiga negara ini tidak hanya tragedi kemanusiaan di kawasan Timur Tengah, tetapi juga ancaman nyata terhadap perdamaian dan stabilitas global.
PT. Pertamina International Shipping (PIS) menyiapkan jalur alternatif, yakni melalui pelabuhan di wilayah Oman, India, hingga Amerika Serikat (AS), sebagai respons terhadap eskalasi konflik Iran-Israel