Data otoritas Lebanon mencatat lebih dari 2.900 orang telah tewas akibat serangan Israel sejak konflik pecah pada awal Maret 2026, termasuk lebih dari 400 korban jiwa setelah gencatan senjata diberlakukan pada 17 April 2026.
Kelompok Hizbullah yang didukung Iran mengumumkan telah melancarkan serangan balasan menggunakan drone terhadap target militer Israel di utara Israel. Hizbullah mengaku menargetkan barak militer Ya'ara serta sejumlah operasi terhadap pasukan Israel di Lebanon selatan.
Kelompok tersebut menolak tegas perundingan yang dilakukan pemerintah Lebanon dengan Israel, menilai serangan yang terus berlangsung membuktikan gencatan senjata tidak dihormati.
Militer Israel mengonfirmasi seorang perwiranya tewas dalam pertempuran di Lebanon selatan pada Sabtu (16/5/2026), menjadikan total korban tewas dari pihak Israel sejak konflik dengan Hizbullah meletus mencapai 21 personel.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres sebelumnya menyambut baik perpanjangan gencatan senjata dan mendesak semua pihak menghormati penghentian permusuhan.
Namun, warga sipil Lebanon yang mengungsi menilai gencatan senjata belum berjalan efektif.
"Ini bukan gencatan senjata selama serangan Israel terus berlanjut terhadap wilayah selatan dan rakyatnya," ujar Ali Salameh (60), seorang pengungsi yang kini berlindung di sebuah sekolah di Beirut sejak perang dimulai.