Perundingan antara Lebanon dan Israel di hari kedua, Rabu, yang digelar di Roma, Italia, telah berakhir setelah dilakukan pembahasan mengenai sejumlah isu yang diangkat kedua belah pihak, menurut laporan Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA).
Presiden AS Donald Trump pekan lalu mengatakan kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahwa Israel harus mulai menarik pasukannya dari Suriah dan Lebanon
Sekretaris Jenderal Hizbullah Naim Qassem mengatakan bahwa kelompok tersebut akan tetap "berada di lapangan" untuk menghadapi Israel, dan menolak perjanjian kerangka kerja yang ditengahi AS antara Lebanon dan Israel.
Sekitar 65 orang tewas dan hingga 170 lainnya luka-luka selama 10 hari pertama gencatan senjata Lebanon-Israel, dengan antara 180 dan 230 pelanggaran Israel tercatat
Presiden Iran juga menyesalkan organisasi internasional dan kelompok pembela hak asasi manusia yang dinilai tidak mengambil langkah nyata untuk menghentikan tindakan Israel.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Sabtu (4/7), mengkritik lembaga-lembaga internasional atas kegagalan mereka untuk menghentikan tindakan Israel di kawasan tersebut.
Foto yang dirilis oleh Pasukan Pertahanan Israel (Israel Defense Forces/IDF) pada 16 September 2025 ini menunjukkan Eyal Zamir (kedua dari kanan), panglima militer Israel, di Jalur Gaza. (Carapandang/IDF/Handout via Xinhua)
Seorang pejabat Amerika Serikat bahkan menilai bahwa keberadaan militer Israel di wilayah selatan Lebanon menjadi ancaman serius bagi stabilitas kesepakatan.
Serangan udara Israel terus mengguncang Lebanon selatan hingga Sabtu (20/6), meskipun Amerika Serikat mengumumkan kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah telah tercapai sehari sebelumnya.
Israel sebagai sekutu AS harus memiliki komitmen untuk menjalankan kesepatan tersebut. Sebab, Israel selama ini kerap melanggar berbagai kesepakatan yang telah dibuat.