Beranda Berita Cerita Kecil dalam Perjalanan Besar JKN yang Sarat Makna

Cerita Kecil dalam Perjalanan Besar JKN yang Sarat Makna

Juli 2026. Hampir setiap beberapa pekan, Aisyah Qurrota Ain kembali melangkahkan kaki ke Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), Depok. Di pelukannya ada Isa Arbei Kencana Jenggala, putra bungsunya yang kini berusia satu tahun dua bulan

0
Cerita kecil dalam perjalanan besar JKN

Pada Mei 2012, Bhumi terserang pneumonia dan harus dirawat di Pediatric Intensive Care Unit (PICU). Saat itu Aisyah belum memiliki perlindungan asuransi kesehatan, termasuk untuk bayinya. Seluruh biaya pengobatan ditutup dari donasi teman-teman dan kerabat.

Hingga suatu ketika, donasi itu berhenti. Bhumi pun berpulang pada usia tiga setengah bulan.

Cerita serupa, meski dalam situasi berbeda, pernah dialami Hermawan Ramadhan.

Pertengahan 2009, ia masih menjadi mahasiswa tingkat akhir Universitas Negeri Jakarta. Adik pertamanya baru masuk perguruan tinggi swasta, sedangkan adik bungsunya masih duduk di bangku SMP. Ibunya, seorang guru sekolah dasar negeri, menjadi tulang punggung keluarga.

Hermawan masih mengingat jelas campuran rasa lega, gelisah, dan kalut ketika sang ibu akhirnya diizinkan pulang setelah hampir empat minggu dirawat akibat stroke di Rumah Sakit Tugu Ibu, Depok.

Kelegaan itu segera berganti kebingungan. Keluarganya harus mencari cara melunasi sisa tagihan rumah sakit.

Saat itu ibunya memang telah menjadi peserta asuransi kesehatan pemerintah yang dikelola PT Askes, cikal bakal BPJS Kesehatan. Namun, sistem ketika itu masih membatasi manfaat. Layanan lebih diprioritaskan di rumah sakit pemerintah, sedangkan perawatan di rumah sakit swasta tetap memerlukan biaya tambahan apabila plafon jaminan terlampaui.

  • Tags

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here