"Jadi orang yang sebelumnya tenang bisa tiba-tiba menjadi emosional, mudah marah, atau sering mengajak bertengkar. Itu juga bisa menjadi salah satu gejala," ucap Dhira.
Apabila tumor menekan area otak yang mengatur gerakan tubuh, pasien dapat mengalami kesemutan, kelemahan, hingga kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh.
Menurut Dhira, lokasi tumor menentukan bagian tubuh yang terdampak karena jalur saraf di otak saling bersilangan.
Sementara itu, jika tumor tumbuh di bagian belakang otak yang berfungsi sebagai pusat penglihatan, penderita dapat mengalami gangguan visual.
"Penderita bisa melihat bayangan hitam, sebagian gelap, ada bagian penglihatan yang hilang, gangguan mata, sulit diajak bicara juga bisa, tidak nyambung, ngelantur bahasanya," kata Dhira.
Dhira menambahkan lokasi tumor yang paling berbahaya adalah batang otak karena berfungsi mengatur organ-organ vital, termasuk pernapasan dan denyut jantung.
"Batang otak mengatur jantung dan paru-paru, kalau tumornya di situ, bisa saja tidak ada gejala yang jelas, tetapi tiba-tiba terjadi henti napas," ucap Dhira.
Ia juga mengingatkan bahwa tumor otak berukuran kecil dapat berkembang tanpa menimbulkan gejala sehingga baru terdeteksi ketika ukurannya sudah besar dan menekan jaringan otak.
"Semakin besar ukuran tumor saat ditemukan, semakin kompleks juga tindakan operasinya," ujar Dhira.