CARAPANDANG - Harga emas menguat lagi seiring meningkatnya permintaan aset safe haven. Namun, secara bulanan harganya babak belur.
Harga emas naik di tengah konflik Timur Tengah yang mendorong ekspektasi inflasi dan suku bunga global yang lebih tinggi.
Merujuk Refinitiv, harga emas ditutup di posisi US$ 4510,24 per troy ons atau menguat 0,39% pada perdagangan Senin (30/3/2026). Penguatan ini memperpanjang reli emas dengan menguat 2,9% dalam dua hari beruntun.
Harga emas melemah pada hari ini. Pada perdagangan Selasa (31/3/2026) pukul 06.22 WIB, harga emas ada di posisi US$ 4507,66 per troy ons atau melemah 0,6%.
"Perang masih berlangsung panas dan belum ada tanda-tanda penyelesaian, sehingga mendorong harga emas naik karena permintaan safe haven... Fokus pasar dalam jangka pendek akan pada perang, harga minyak mentah, imbal hasil obligasi, dan indeks dolar AS," kata Jim Wyckoff, analis senior di Kitco Metals.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa fasilitas energi dan sumur minyak Iran akan dihancurkan jika negara tersebut tidak membuka Selat Hormuz, setelah Teheran menyebut proposal damai AS tidak realistis dan meluncurkan gelombang rudal ke Israel.
Meski naik dalam dua hari beruntun, nasib emas mengenaskan pada Maret. Harga emas telah turun lebih dari 14,6% sepanjang Maret, rekor terburuk sejak Oktober 2008 atau dalam 17 tahun lebih di mana harganya ambruk 16,9%.