CARAPANDANG - Oleh: Edi Setiawan, Dosen dan Peneliti FEB Universitas Muhammadiyah Prof DR HAMKA
Mengapa generasi yang paling melek finansial justru semakin akrab dengan pekerjaan tambahan? Pertanyaan itu layak diajukan setelah Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa kelompok usia 18–25 tahun, yang didominasi Generasi Z, mencatat tingkat literasi keuangan sebesar 73,22 persen. Angka tersebut menempatkan kelompok usia muda sebagai salah satu kelompok dengan tingkat literasi keuangan tertinggi. Pada saat yang sama, Generasi Z juga semakin aktif mencari sumber pendapatan alternatif, mulai dari berjualan daring, affiliate marketing, hingga live streaming.
Sepintas, dua fenomena tersebut tampak sebagai kabar baik. Generasi muda semakin memahami pentingnya mengelola uang dan semakin kreatif memanfaatkan peluang ekonomi. Mereka tumbuh bersama teknologi yang memungkinkan keterampilan, jaringan, bahkan waktu luang diubah menjadi sumber penghasilan. Namun, di balik optimisme itu terdapat pertanyaan yang lebih mendasar: apakah tingginya literasi finansial otomatis membuat generasi muda merasa lebih aman secara ekonomi?