Mahyeldi menjelaskan kekuatan Silokek bertumpu pada tiga kekayaan utama, yakni geodiversity, biodiversity, dan cultural diversity. Kawasan ini memiliki bentang alam karst, tebing dan Lembah Silokek, Sungai Batang Kuantan, ekosistem hutan dan sungai, flora-fauna, serta adat dan budaya Minangkabau yang hidup di tengah masyarakat.
“Tiga kekuatan ini bukan sekadar aset untuk dipamerkan. Ketiganya adalah modal pembangunan yang harus dijaga sekaligus dikembangkan agar memberikan manfaat bagi masyarakat,” tegasnya.
Ia menyebut Silokek sebagai “buku sejarah bumi” yang terbuka, karena bentang alam dan batuannya menyimpan jejak perjalanan bumi selama jutaan tahun. Karena itu, warisan tersebut harus dipastikan tetap dapat dipelajari dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Pengembangan Silokek, lanjut Mahyeldi, juga sejalan dengan arah pembangunan Sumatera Barat melalui RPJPD 2025–2045 dan RPJMD 2025–2029. Konsep Green Province menempatkan pembangunan agar tetap selaras dengan alam, sementara geopark menjadi salah satu implementasi pembangunan berbasis potensi wilayah.
“Geopark bukan program yang berdiri sendiri. Geopark adalah bagian dari arah pembangunan Sumatera Barat menuju 2045,” katanya.