Salah satu kandungan yang paling tinggi dalam mi instan adalah natrium atau garam yang berasal dari bumbu instan. Dalam satu bungkus mi instan, kandungan natriumnya umumnya berkisar 600—1.500 mg, sedangkan WHO menganjurkan konsumsi natrium kurang dari 2.000 mg per hari.
Asupan natrium yang terlalu tinggi dapat membuat tubuh menahan lebih banyak cairan sehingga volume darah meningkat. Akibatnya, jantung dan ginjal harus bekerja lebih keras. Jika kebiasaan ini berlangsung dalam jangka panjang, risiko hipertensi, penyakit jantung, stroke, hingga gangguan fungsi ginjal pun dapat meningkat.
3. Meningkatkan risiko obesitas
Meski mengenyangkan sesaat, mi instan rendah protein dan serat yang berperan menjaga rasa kenyang lebih lama. Sebaliknya, kandungan karbohidrat olahannya lebih cepat dicerna tubuh sehingga kadar gula darah dapat naik dan turun dengan cepat setelah makan.
Alhasil, rasa lapar muncul lebih cepat sehingga kamu lebih mudah ngemil atau makan dalam porsi yang lebih besar. Ditambah lagi, banyak jenis mi instan diproses dengan cara digoreng sehingga mengandung kalori dan lemak yang cukup tinggi. Jika dikonsumsi terus-menerus tanpa diimbangi pola hidup sehat, kondisi ini dapat meningkatkan risiko kelebihan berat badan hingga obesitas.