Penelitian menunjukkan bahwa paparan jangka panjang terhadap asap tembakau menyebabkan peradangan kronis, meningkatkan risiko PPOK dan kanker paru. PPOK sendiri merupakan istilah payung untuk kondisi seperti emfisema dan bronkitis kronis, di mana saluran pernapasan menyempit dan fungsi paru menurun secara progresif.
Lebih jauh, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh perokok aktif. Paparan asap rokok pasif, yaitu asap yang dihirup orang di sekitar perokok, juga secara signifikan meningkatkan risiko gangguan paru dan penyakit pernapasan. Orang-orang yang hidup bersama perokok memiliki risiko lebih tinggi mengalami infeksi saluran napas dan bahkan kanker paru dibandingkan mereka yang terpapar sedikit atau tidak sama sekali.
2. Vape dan rokok elektronik
Pertumbuhan penggunaan rokok elektronik atau vape sering dipandang sebagai alternatif yang lebih aman dibanding rokok konvensional, tetapi bukti ilmiah menunjukkan bahwa konsep ini terlalu sederhana. Aerosol yang dihirup dari vape mengandung berbagai bahan kimia berbahaya yang dapat memicu inflamasi di saluran napas.
Penelitian metaanalisis terbaru juga menunjukkan bahwa penggunaan rokok elektronik berkaitan dengan peningkatan kemungkinan mengalami PPOK dibanding dengan mereka yang tidak pernah menggunakan produk ini. Meskipun risiko relatif bisa lebih rendah dibandingkan merokok tembakau, tetapi itu bukan berarti tanpa risiko sama sekali dan tetap berkontribusi terhadap gangguan paru kronis.