Ketenangan jiwa akan lahir saat kita mampu membedakan antara wilayah usaha yang merupakan domain kita, dan wilayah hasil yang merupakan domain Allah. Kita berkewajiban merencanakan, mengetik, menghitung, dan mengeksekusi pekerjaan dengan sebaik mungkin. Namun, apakah proyek tersebut akan berhasil, apakah klien akan merasa puas, atau apakah tenggat waktu tersebut dapat terlampaui dengan sempurna, semuanya berada di luar kendali mutlak kita.
Ketika seorang profesional muslim telah mengoptimalkan ikhtiarnya, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah melalui doa dan kepasrahan yang total, maka tidak ada lagi ruang bagi kecemasan yang merusak. Jika hasilnya baik, ia bersyukur; jika hasilnya belum sesuai harapan, ia bersabar dan meyakini ada hikmah serta kenaikan derajat yang dipersiapkan untuknya.
Mari kita ubah ruang kerja kita menjadi ruang ibadah. Jadikan setiap tekanan sebagai pengingat untuk semakin mendekat kepada-Nya. Dengan dzikir yang senantiasa membasahi bibir di sela tugas dan shalat tepat waktu sebagai penanda batas aktivitas duniawi, niscaya ketenangan jiwa bukan lagi sekadar impian di tengah padatnya rutinitas, melainkan sebuah realitas yang membimbing kita meraih kesuksesan di dunia dan kemuliaan di akhirat.