Dunia kerja modern modern mengenal konsep pomodoro atau jeda istirahat singkat untuk menjaga produktivitas. Jauh sebelum era modern, Islam telah menyediakan sistem jeda restoratif, yang jauh lebih komprehensif dan sakral melalui shalat lima waktu. Sayangnya, di bawah tekanan tenggat waktu yang ketat, salat sering kali dianggap sebagai "pengganggu" ritme kerja. Kita sering menunda salat dengan dalih, "Sebentar lagi, tanggung.”
Menunda salat demi pekerjaan adalah sebuah kekeliruan fatal dalam mengelola energi mental. Salat tepat waktu seharusnya tidak dipandang sebagai kewajiban yang menyita waktu, melainkan sebagai hak jiwa untuk beristirahat dari penatnya dunia. Ketika adzan berkumandang, itu adalah undangan resmi dari Sang Pencipta, untuk meninggalkan sejenak semua beban makhluk.
Melangkah menuju tempat wudhu adalah awal dari proses detoksifikasi mental. Air wudhu yang membasuh wajah, tangan, dan kaki secara fisik maupun psikis mampu menurunkan ketegangan saraf, akibat duduk di depan komputer berjam-jam. Kemudian, ketika kita berdiri di atas sajadah, mengangkat tangan, dan mengucapkan Allahu Akbar, kita sedang membuat pernyataan tegas: "Allah Maha Besar, dan semua urusan pekerjaan, target bulanan, serta kecemasan ini adalah kecil di hadapan-Nya."