"Setiap perilaku keras atau paksaan harus dihindari," ujarnya dalam pernyataan di situs webnya, mendorong pembatasan maksimal serta dialog, keterlibatan, dan mendengarkan tuntutan rakyat.
Namun, kelompok hak asasi manusia menuduh otoritas menggunakan kekuatan secara tidak sah. Amnesty International menyatakan pasukan keamanan telah melukai dan membunuh baik pengunjuk rasa maupun orang yang tidak bersalah.
Dari luar negeri, mantan putra mahkota pengasingan Reza Pahlavi mencoba mengisi kekosongan kepemimpinan dalam gerakan tersebut. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengulangi ancamannya untuk mengambil tindakan keras terhadap Iran jika otoritasnya "mulai membunuh orang".
Pemerintah Iran menyalahkan krisis ekonomi pada faktor eksternal, terutama sanksi Barat yang keras akibat program nuklir Iran. Otoritas juga semakin menggambarkan para pengunjuk rasa sebagai perusuh dan penyabot yang didukung asing.