Sementara itu, Direktur SEAMEO CECCEP, Vina Adriany, menjelaskan bahwa CPRN 2026 dirancang untuk memperkuat kolaborasi antarpeneliti, pembuat kebijakan, dan praktisi pendidikan di kawasan Asia Tenggara.
“Konferensi ini tidak hanya menjadi ruang bertukar gagasan, tetapi juga membangun jejaring profesional, kemitraan baru, dan menghasilkan rekomendasi kebijakan yang dapat mendorong perubahan nyata di kawasan,” ujar Vina.
Mempersiapkan Generasi Masa Depan melalui Kebijakan Berbasis Bukti
Dalam forum tersebut dipaparkan bahwa adopsi AI dan robot di lima negara Asia Tenggara pada periode 2018–2022 menciptakan sekitar 2 juta lapangan kerja terampil, namun juga menggeser sekitar 1,4 juta pekerja dengan keterampilan rendah. Temuan ini menunjukkan pentingnya peran pendidikan dalam menyiapkan generasi muda menghadapi perubahan dunia kerja yang semakin dinamis.
Karena itu, Indonesia mengajak negara-negara Asia Tenggara membangun budaya pengambilan kebijakan yang berbasis bukti (evidence-based policy), di mana penelitian, pengalaman lapangan, dan aspirasi masyarakat menjadi landasan dalam merumuskan solusi pendidikan. Pendekatan tersebut sejalan dengan semangat Partisipasi Semesta yang dikembangkan Kemendikdasmen.