Tahun 633 Masehi, pasukan Islam baru saja menyelesaikan perang melawan kelompok murtad di Jazirah Arab. Sayyidina ass. Abu Bakar Ashidiq khalifah pertama, kemudian mengarahkan perhatian ke wilayah Irak yang saat itu berada di bawah kekuasaan Persia Sassanid yang mulai melemah akibat konflik panjang dengan Kekaisaran Byzantium. Khalid bin Walid ditugaskan memimpin ekspedisi tersebut.
Sebelum pertempuran dimulai, Khalid mengirim surat kepada Hormuz yang berbunyi:
“Maka masuklah ke dalam urusan kami (Islam), maka kami akan membiarkanmu dan tanahmu… Jika tidak, maka hal itu akan terjadi padamu meski kamu membencinya, melalui tangan kaum yang mencintai kematian sebagaimana kalian mencintai kehidupan.”
Bagi Hormuz, surat tersebut merupakan penghinaan. Sebagai bangsawan tinggi dengan kekuasaan besar, ia tidak memandang pasukan Arab sebagai ancaman serius. Ia segera melaporkan situasi itu kepada kaisar dan mempersiapkan pasukan.
Dalam pandangannya, pasukan Arab hanyalah syirdzimah, alias kelompok kecil yang mudah dikalahkan.
Duel maut di Kazhimah
Pertempuran pun meletus di Kazhimah, wilayah yang kini termasuk bagian utara Kuwait, pada bulan Muharram tahun 12 Hijriah. Peristiwa ini dikenal sebagai Dzatus Salasil atau “Pemilik Rantai”, merujuk pada strategi yang diterapkan Hormuz.