Ia memerintahkan prajuritnya untuk saling mengikat dengan rantai besi agar tidak melarikan diri. Tujuannya memperkuat barisan. Sejumlah komandan memperingatkan risiko besar jika pasukan harus mundur, tetapi peringatan itu diabaikan.
Sebelum pertempuran besar dimulai, Hormuz menantang Khalid untuk duel satu lawan satu di hadapan kedua pasukan. Khalid menerima tantangan tersebut. Meskipun, ternyata, Hormuz telah bersekongkol dengan pasukan pilihannya untuk menyerang secara tiba-tiba.
“Hormuz menantang Khalid untuk duel, sementara ia telah bersekongkol dengan rekan-rekannya untuk mengkhianati Khalid,” tulis Imam Ibnu Katsir.
Saat duel berlangsung, pasukan penyergap bergerak. Untungnya, tangan kanan Khalid bin Walid, Al-Qa’qa’ ibn Amr al-Tamimi membaca situasi lebih cepat. Ia segera menyerang kelompok tersebut sebelum sempat mengepung pemimpinnya itu. Dalam waktu yang sama, Khalid berhasil menjatuhkan Hormuz dan mengakhiri perlawanan dalam duel tersebut.
Mahkota senilai seratus ribu dirham itu kemudian jatuh ke tangan Khalid. Khalifah Abu Bakar menyerahkannya kembali kepada Khalid sebagai bentuk penghargaan atas kemenangan tersebut.
Nama yang bertahan melampaui zaman
Kematian Hormuz menjadi titik balik dalam pertempuran. Strategi rantai yang dirancang untuk menjaga barisan justru berbalik menjadi jebakan ketika pasukan kehilangan kendali. Setelah pemimpinnya gugur, pasukan Persia tidak memiliki ruang untuk mundur.