Pendekatan seperti itu jauh lebih efisien dibanding setiap daerah berlomba membuat sistem sendiri dengan biaya besar. Transfer pengetahuan antarkota bukan hanya menghemat anggaran, tetapi juga mempercepat peningkatan kualitas pelayanan publik.
Kolaborasi tersebut juga memperlihatkan bahwa kompetisi antardaerah tidak selalu harus menghasilkan pemenang dan pecundang. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana keberhasilan satu kota dapat mempercepat kemajuan kota lainnya.
Praktik seperti ini sudah lama berkembang di berbagai negara maju melalui jaringan antarkota yang aktif bertukar pengalaman mengenai transportasi, pengelolaan lingkungan, pelayanan digital, hingga mitigasi perubahan iklim. Indonesia mulai memperlihatkan arah yang sama.
Bahkan, sejumlah inovasi pemerintah kota Indonesia kini mulai menarik perhatian dunia. Ketika kota-kota dari Filipina, Maladewa, maupun Jepang datang untuk mempelajari inovasi daerah di Indonesia, sesungguhnya yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar reputasi sebuah kota, melainkan daya saing bangsa.
Menjembatani kebijakan
Rakernas APEKSI juga memperlihatkan posisi strategis pemerintah kota sebagai penghubung antara kebijakan nasional dan kebutuhan masyarakat.