CARAPANDANG – Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Lingkar Madani (LIMA), Ray Rangkuti menilai Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berpeluang kecil untuk diperhitungkan dalam kontestasi Pilpres 2029 mendatang.
Hal tersebut dapat terbaca dari respon masyarakat yang kurang menerima dengan kehadiran Gibran.
“Ada kesan yang saya baca bahwa Gibran ini susah diterima publik. Saya kira kesan itu cukup kuat di tengah masyarakat,” kata Ray dalam tayangan YouTube Hendri Satrio Official, Rabu, 15 Juli 2026.
Ray menjelaskan bahwa posisi Gibran saat ini tidak dapat dipisahkan dari Presiden Prabowo Subianto. Keduanya cenderung dilihat publik sebagai satu paket pemerintahan. Karena itu, kritik atau penilaian negatif yang diarahkan kepada Prabowo dinilai kerap ikut berimbas kepada Gibran sebagai wakil presiden.
Ray membandingkan situasi tersebut dengan hubungan Presiden Soeharto dan Wakil Presiden BJ Habibie pada penghujung era Orde Baru.
Menurut dia, ketika masyarakat mendesak Soeharto mundur, tuntutan tersebut tidak otomatis diarahkan kepada Habibie. Setelah Soeharto mengundurkan diri, Habibie kemudian melanjutkan pemerintahan sebagai presiden.
“Ketika Pak Harto diminta mundur, tuntutan itu belum tentu ditujukan juga kepada Pak Habibie. Situasinya berbeda dengan Prabowo dan Gibran sekarang,” kata Ray.