Dalam sambutannya kepala negara menekankan bahwa nilai kepemimpinan yang mengedepankan ketulusan dan persatuan sejatinya telah lama diajarkan para ulama serta para pendiri bangsa. Jika ada perbedaan pandangan adalah hal yang wajar dalam kehidupan berbangsa, namun tidak boleh berujung pada perpecahan.
“Guru-guru kita, kiai-kiai kita, leluhur kita mengajarkan selalu, tidak boleh ada rasa benci, tidak boleh ada rasa dendam. Berbeda tidak masalah, sesudah berbeda cari persatuan, cari kesamaan,” jelas Prabowo.
Prabowo juga menilai, tradisi musyawarah untuk mufakat merupakan jati diri bangsa Indonesia yang harus terus dipertahankan. Ia mencontohkan peran NU yang dinilainya konsisten menjaga harmoni sosial dan menjadi teladan dalam merawat persatuan di tengah keberagaman.
“NU selalu memberi contoh, NU selalu berusaha menjaga persatuan. Dan memang itulah pelajaran sejarah,” paparnya.
Pada kesempatan ini Prabowo juga mengingatkan bahwa kekuatan suatu bangsa sangat bergantung pada kerukunan para pemimpinnya. Menurutnya, kemajuan negara akan sulit tercapai jika elite kepemimpinan terjebak dalam konflik dan perpecahan.
"Karena itu saya selalu mengajak semua unsur, mari kita bersatu,” tegasnya.
Prabowo: Kekuatan Suatu Bangsa Ditentukan Oleh Kerukunan Para Pemimpinnya
Prabowo juga menilai, tradisi musyawarah untuk mufakat merupakan jati diri bangsa Indonesia yang harus terus dipertahankan.