Rano menjelaskan, terdapat tiga zona di kawasan Kota Tua yang bakal direvitalisasi, yaitu zona inti, zona pengembangan, dan zona penunjang. Pada tahap awal, revitalisasi akan difokuskan di zona inti yang mencakup Museum Bahari dan Alun-Alun Fatahillah.
"Bahkan yang akan menjadi prioritas kami pertama yaitu membangun area parkir dan untuk teman-teman PKL kita. Tentu harus kami berikan fasilitas. Namun harus kami atur agar suasana Kota Tua itu tidak terganggu, tapi itu menjadi bagian kehidupan masyarakat itu sendiri," kata Rano.
Gubernur Jakarta Pramono Anung Wibowo menilai, masa depan pariwisata di ibu kota berada di kawasan Kota Tua dan Kepulauan Seribu. Karena itu, revitalisasi kawasan Kota Tua diperlukan, khususnya untuk menarik kunjungan wisatawan.
Dia mengungkapkan, saat ini rata-rata waktu kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Jakarta telah mengalami peningkatan dari 1,5 hari menjadi 2,8 hari. Pasalnya, mereka datang ke Jakarta bukan semata-mata untuk berbisnis, melainkan juga untuk berwisata.
"Termasuk mereka kalau dari Malaysia, dari Singapura, memanfaatkan Whoosh ke Bandung, belanja-belanja di Bandung, pulang, hari Sabtunya di Thamrin City, Pacific Place, Plaza Senayan, PIK 2, hari Minggunya ikut Car Free Day, sore baru pulang ke negara masing-masing," kata Pramono.
Dia menambahkan, kawasan Kota Tua memiliki potensi yang besar sebagai destinasi wisman. Pasalnya, kawasan Kota Tua seperti Amsterdam di Belanda, yang memiliki ciri khas bangunan lama.