Selain itu, Dexlite (CN 51) naik menjadi Rp26.000 per liter dari Rp23.600 per liter, dan Pertamina Dex (CN 53) meningkat menjadi Rp27.900 per liter dari Rp23.900 per liter.
Eddy menegaskan bahwa fluktuasi harga seperti ini merupakan konsekuensi dari sistem pasar, sehingga kenaikan maupun penurunan dapat terjadi sesuai kondisi global.
Ia juga mendorong pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi nasional agar tidak terlalu rentan terhadap gejolak harga minyak dunia.
"Bagaimanapun, dengan ketergantungan yang masih tinggi terhadap energi fosil, khususnya yang dipengaruhi oleh pasar global, maka setiap gejolak harga minyak dunia akan selalu berpotensi menekan perekonomian kita," kata Eddy.
Selain itu, ia menekankan pentingnya percepatan pengembangan energi terbarukan seperti panas bumi, tenaga surya, angin, dan bioenergi agar ketergantungan terhadap impor dapat dikurangi.
Menurutnya, transisi energi juga penting bukan hanya untuk ketahanan ekonomi, tetapi juga untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat.
"Saya yakin dan percaya urgensi mewujudkan ketahanan energi sama pentingnya dengan upaya mewujudkan ketahanan nasional. Transisi energi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan," kata Eddy.