Untuk penentuan topik, menurut Sonny prosesnya dimulai dari tempat-tempat yang telah dikenal maupun rekomendasi dari para follower. Platform media sosial membuat proses menggali ide menjadi lebih variatif, meski tidak semua masukan selalu dijadikannya konten. "Saya terlebih dahulu melakukan proses kurasi dengan mencari sudut pandang yang unik, menggali kisah-kisah yang jarang diketahui, serta menemukan keterkaitan budaya yang menarik sehingga setiap video mampu memberikan pengalaman baru bagi penonton," jelas Sonny.
Guna memastikan kualitas informasi, dia menggunakan berbagai sumber referensi, mulai dari buku, artikel daring, hingga diskusi langsung dengan para sejarawan, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan di bidang pelestarian budaya. Diakui Sonny, proses memperoleh data pun menjadi lebih mudah di era digital saat ini. Dirinya tak lagi perlu berkutat dengan buku-buku tebal sejarah atau menghabiskan waktu di perpustakaan fisik seperti di masa lalu, termasuk korespondensi narasumber yang cukup dilakukan via email atau aplikasi perpesanan.
"Konten di era modern ini dapat diproduksi menggunakan peralatan yang relatif sederhana, dan tetap praktis dibawa ke mana saja. Saya mengandalkan telepon pintar, kamera aksi, serta mikrofon eksternal untuk menghasilkan kualitas audio yang baik," ungkap pria berkacamata tersebut.