Beranda Feature Feature: Mengemas Sejarah di Era Digital

Feature: Mengemas Sejarah di Era Digital

0
Feature: Mengemas Sejarah di Era Digital

Terganjal waktu dan pekerjaan utama di salah satu perusahaan terbesar di Indonesia, Sonny pun baru dapat melakukan kunjungan peliputan pada akhir pekan. Efektivitas dan efisiensi lantas menjadi pertimbangan utama dirinya dalam setiap produksi konten.

Oleh sebab itu, guna menyiasati birokrasi izin peliputan dan pengambilan gambar di situs bersejarah, Sonny lebih sering mengikuti program walking tour yang diselenggarakan oleh berbagai komunitas atau penyelenggara lokal, dan biasanya dapat dijumpai via daring. Cara ini dinilai lebih efektif karena umumnya seluruh perizinan telah diurus oleh penyelenggara. Selain itu, dia juga memperoleh penjelasan langsung dari pemandu yang memperkaya pemahaman sekaligus membantu menangkap suasana lokasi secara lebih autentik.

Selanjutnya, setelah seluruh materi terkumpul, proses penulisan naskah, perekaman suara, penyuntingan video, hingga penerjemahan ke bahasa Inggris diakui Sonny dapat diselesaikan dalam waktu sekitar dua hingga tiga jam. Efisiensi waktu tersebut menggarisbawahi keunggulan era digital.

AKURASI DAN VALIDITAS

Menurut Wildan Sena Utama, Ph.D., akademisi dari Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (FIB UGM), meski saat ini adalah era "serba cepat", ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh para kreator untuk memastikan akurasi konten mereka.

  • Tags

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here