Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an, "Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah hati menjadi tenteram" (QS. Ar-Ra'd: 28). Dzikir bukan sekadar komat-kamit verbal di atas sajadah setelah shalat fardhu. Dzikir adalah kesadaran aktif yang terus-menerus (mindfulness) bahwa di atas segala otoritas bos, klien, atau target perusahaan, ada Allah SWT sebagai Otoritas Tertinggi yang mengendalikan alam semesta.
Bagi seorang profesional, mengaplikasikan dzikir di meja kerja dapat dilakukan dengan menyisipkan kalimat-kalimat tayyibah di antara aktivitas. Mengucapkan basmalah sebelum membuka dokumen baru, melafalkan hamdalah saat sebuah tugas selesai, atau membisikkan Istighfar ketika emosi mulai terpancing oleh situasi kerja yang tidak kondusif.
Dzikir berfungsi sebagai jangkar bagi mental. Ketika badai kecemasan akibat deadline mulai menarik pikiran kita ke arah kepanikan, dzikir menarik kita kembali ke pusat kedamaian, mengingatkan kita bahwa tugas kita hanyalah berusaha dengan maksimal, sementara hasil akhir sepenuhnya berada di tangan Allah.
Ikhtiar Ketiga : Salat Tepat Waktu Untuk Jeda Mental Yang Restoratif