Pada awal 1950-an, sosok yang yang lulus dari Akademi Militer Kerajaan Belanda (KMA) dengan predikat meester in all wapens (ahli segala senjata) ini memimpin operasi penumpasan pemberontakan di sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk pemberontakan Andi Azis di Makassar, Sulawesi Selatan, pada April 1950 dan pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) di Maluku pada November 1950.
Saat penumpasan Pemberontakan RMS itulah, komandan operasi Letkol Slamet Riyadi mencetuskan ide untuk membentuk satuan prajurit yang bisa menjadi "pemukul" yang dapat digerakkan secara cepat dan tepat untuk menghadapi berbagai sasaran, sekalipun di medan yang berat. Namun, Letkol Slamet Riyadi gugur dalam pertempuran di Ambon, sebelum ide tersebut terwujud.
Kawilaranglah yang kemudian mewujudkan gagasan pembentukan pasukan khusus itu dengan membentuk Kesatuan Komando Teritorium III pada 16 April 1952. Kesatuan Komando Teritorium III adalah cikal bakal Kopassus atau Korps Baret Merah TNI Angkatan Darat.
Namun siapa sangka, Kawilarang dalam satu babak hidupnya justru harus berhadapan dengan pasukan elite yang dibentuknya itu, saat ia bergabung dengan Gerakan Permesta yang oleh Pemerintah Pusat dianggap sebagai pemberontak.